“Bedol Kota” pada Mudik Akbar Lebaran 2022

Literasi  
Sejumlah pemudik bersiap menaiki bus di Terminal Kampung Rambutan, Jakarta, Sabtu (30/4/2022). Puncak arus mudik dengan bus AKAP melalui Terminal Kampung Rambutan diprediksi terjadi pada hari Sabtu (30/4/2022) ini, yang didominasi oleh pemudik tujuan Pulau Sumatera. Tercatat pada Jumat (29/4/2022) kemarin, sebanyak 2.791 penumpang dan 131 armada bus memberangkatkan pemudik dari Terminal Kampung Rambutan. (FOTO : Republika/Putra M. Akbar)

KAKI BUKIT – Setelah tidak bisa mudik lebaran selama dua kali Idul Fitri maka tahun 2022 banyak warga memilih mudik atau pulang ke kampung halaman. Diprediksi jumlah warga yang mudik pada tahun ini jumlahnya akan meningkat berkali lipat dibanding masa-masa mudik sebelum pandemi Covid-19 melanda Indonesia dua tahun lalu.

Berapa jumlahnya pemudik pada lebaran Idul Fitri 2022? Jumlah pastinya tentu tidak ada yang tahu. Tapi prediksi atau perkiraannya tentu ada. Mau versi yang mana? Dari Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate memprediksi akan ada lebih dari 100 juta orang mudik pada lebaran tahun 2022.

Jumlah ini jelas melebihi prediksi dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub) yang memperkirakan akan ada sekitar 85 juta orang yang melakukan mudik masa liburan Idulfitri 2022.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Menurut Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Perhubungan sudah melakukan survei terkait minat masyarakat untuk mudik tahun ini. Diprediksi daerah asal pemudik terbanyak adalah Jawa Timur, Jabodetabek, dan Jawa Tengah. Sedangkan daerah tujuan mudik adalah Jateng, Jatim, dan Jawa Barat.

Sebelumnya, pada awal Ramadhan 1443 H atau 2022, berdasarkan survei Badan Litbang Perhubungan (Balitbanghub) tentang potensi pemudik lebaran 2022 menyebutkan ada 79,4 juta penduduk akan melakukan perjalanan ke luar kota.

Pada survei pertama 20,3 persen atau 55 juta orang akan melakukan perjalanan ke luar kota, setelah dilakukan survei kedua mengalami peningkatan menjadi 29,4 persen atau 79,4 juta. Survei juga mendapatkan potensi penggunaan moda mobil pribadi akan berada di angka 26,8 persen atau 21,3 juta orang, sepeda motor 18,7 persen atau 14,9 juta orang, bus 16,3 persen atau 12,9 juta orang.

Adapun untuk provinsi tujuan yang paling dominan akan dituju para pemudik yakni Jawa Tengah sebanyak 23,5 juta. Lalu diikuti wilayah Jawa Timur 16,8 juta dan Jawa Barat 14,7 juta. Kemudian pemudik dari Jawa Timur diperkirakan sejumlah 14,6 juta orang. Angka itu setara 17,1 persen dari jumlah pemudik pada lebaran 2022.

Menyusul pemudik dari Jabodetabek diperkirakan 16,4 persen dari total pemudik atau sebanyak jumlah 14 juta orang. Kemudian sebanyak 12,1 juta orang pemudik diprediksi berasal dari Jawa Tengah, 9,2 juta pemudik dari Jawa Barat, dan empat juta pemudik dari Sumatera Utara. Juga diperkirakan, arus puncak mudik terjadi pada 29-30 April 2022. Sedangkan puncak arus balik mudik terjadi pada 8 Mei 2022.

Itu adalah prediksi dari sebuah hasil survei. Jika memang ada lebih dari 100 juta melakukan mudik lebaran 2022, maka selama sepekan atau lebih akan terjadi “bedol kota” dari warga kota pada beberapa daerah di Indonesia. Ada yang menyebut pada lebaran 2022 terjadi mudik akbar.

Istilah “bedol kota” tersebut mengingatkan pada masa Orde Baru (Orba) dulu ada program pemerintah yang bernama transmigrasi yang aslinya sudah pernah ada sejak zaman kekuasaan Hindia Belanda yang diberi nama kolonisasi. Transmigrasi zaman Orba adalah program memindahkan penduduk dari daerah yang padat ke daerah yang masih jarang penduduk, khususnya dari pulau Jawa ke pulau Sumatera

Merujuk kepada UU No.29 Tahun 2009 tentang Perubahan atas UU No.15 Tahun 1997 tentang Ketransmigrasian menyebutkan, transmigrasi adalah perpindahan penduduk secara sukarela dalam wilayah NKRI untuk meningkatkan kesejahteraan dan menetap di wilayah Pengembangan Transmigrasi (WPT) atau Lokasi Permukiman Transmigrasi (LPT).

Mudik lebaran jelas tidak sama dengan transmigrasi. Jika saja mudik itu sama seperti program transmigrasi maka akan ada penduduk kota yang pulang atau kembali menetap di desa atau kampung halamannya. Bakal terjadi “bedol kota” jika itu terjadi. Tapi itu mustahil terjadi karena daya tarik dan kemilau kota lebih kuat dari pada indah dan asrinya desa, walau grup band God Bless sudah mengingatkan sejak lama:

“Haruskah kita beranjak ke kota

Yang penuh dengan tanya?

Lebih baik di sini

Rumah kita sendiri.”

Pada zaman Orba ada program transmigrasi yang diberi nama “Transmigrasi Bedol Desa.” Transmigrasi bedol desa adalah memindahkan orang-orang dari satu desa beserta dengan aparatur pemerintahan dari desa tersebut, transmigrasi bedol desa ini dilakukan dengan biaya dari pemerintah dan akan disediakan fasilitas oleh pemerintah pula.

Salah satunya adalah memindahkan penduduk Wonogiri, Jawa Tengah untuk menampung penduduk Wonogiri ke kawasan Rimbo Ilir di Provinsi Jambi tahun 1977 – 1978, yang di pindahkan sebagai akibat dibangunya waduk raksasa serba guna yaitu “Waduk Gajah Mungkur.” Pembangunan waduk tersebut mencakup luas lima daerah kewedenaan, enam kecamatan, 41 desa dan 11.475 kepala keluarga atau 59.174 jiwa.

Mudik Fenomena

Bagi masyarakat di Indonesia, mudik lebaran telah menjadi fenomena tahunan sejak lama dan melibatkan jumlah penduduk dalam jumlah yang banyak. Pada mudik terjadi migrasi besar-besaran sementara dari kota ke kampung, dengan menempuh jarak dari yang dekat sampai yang ribuan kilometer.

Jika prediksi para pejabat pemerintah tersebut benar adanya, mudik lebaran 2022 memang migrasi besar-besaran yang mungkin jumlahnya lebih besar dibanding jumlah migrasi burung-burung dari Semenanjung Siberia ke kawasan pantai Timur Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) yang hanya diprediksi berjumlah puluhan ribuan burung.

Jangan pula dibayangkan mudik itu suatu yang sederhana dan simpel. Mudik menjadi sebuah perjuangan sebelum bisa sampai ke desa atau kampung tujuan. Menurut Andre Moller dalam buku Ramadan di Jawa (2002) mudik merupakan fenomena unik yang terjadi di seluruh pelosok Indonesia untuk menyambut Ramadhan dan hari raya Idul Fitri.

Budayawan Jakob Soemardjo (2003) mencatat ternyata yang pertama kali mempunyai tradisi mudik ialah orang-orang Jawa yang notabene berasal dari golongan menengah ke bawah, yang kemudian diikuti masyarakat menengah dan pada akhirnya menjadi gejala global tanpa melihat lagi stratifikasi kelas.

Menurut antropolog Neil Mulder, mudik sering dimaknai sebagai proses migrasi internal (lokal) yang berlangsung secara temporer. Di samping sebagai proses migrasi, mudik juga merupakan simbol kultur komunalitas yang terjadi pada masyarakat baik sebelum maupun pasca libur panjang atau hari besar, terutama pada saat lebaran.

Mudik lebaran atau pada hari raya Idul Fitri memang tradisi khas bangsa Indonesia sejak lama karena di negara di kawasan Timur Tengah yang sama-sama merayakan hari raya Idul Fitri tidak terdapat tradisi mudik ke kampung halaman. Lebaran besar di sana bukan saat Idul Fitri, melainkan hari raya haji atau Idul Adha.

Mudik atau dalam artian lain pulang kampung ini sudah merupakan aktivitas rutin tahunan bagi sebagian masyarakat Indonesia yang sebagai perantau atau jauh dari keluarga.

Agus Maladi Irianto dalam penelitiannya berjudul “Mudik dan Keretakan Budaya” menyatakan bawah mudik ke kampung halaman adalah upaya pembebasan diri dari penatnya aktivitas masyarakat kota yang individualistik.

Di dalam kata mudik dan “udik” juga terkandung kesamaan arti bahwa perilaku asali manusia mesti mencerminkan keaslian diri seperti kolektivisme, kejujuran, dan peduli terhadap sesama sebagai ciri khas warga di tempat asal kita.

Selama kita hidup di perkotaan yang individualistik, tak salah kalau sehari dua hari meluangkan waktu untuk berbagi dengan warga kampung. Socrates pernah berbisik, hidup yang tak diperiksa tidak layak diteruskan. Kenapa? Sebab ketika tidak diperiksa atau direfleksikan, tiada bedanya dengan hehewanan.

Mudik lebaran memang bukan transmigrasi melainkan migrasi spontan dan temporer yang bermuara pada kebahagiaan dan kegembiraan bisa dapat saat berkumpul dengan handai taulan dan keluarga di tempat asal. Dalam perjalanan mudik, banyak yang tidak menghiraukan berapa besar biaya yang harus dikeluarkan, karena kebahagian dan kegembiraan berkumpul dengan keluarga besar tidak dapat diukur dengan biaya yang harus dikeluarkan.

Ya mudik lebaran pada hari raya Iduk Fitri adalah ekpresi kegembiraan sekaligus menjadi sebagai simbol hari kemenangan, setelah lulus menjalani ujian di bulan Ramadhan. Mudik lebaran menjadi ekpresi kegembiraan untuk menjalani kehidupan secara lebih baik, bermoral, bermartabat, dan berdasarkan pada spirit Islam dalam kehidupan

Mudik telah menjadi sebuah ritual yang memiliki dimensi budaya (kultural), religius, dan ekonomi. Mudik sudah dikenal ribuan tahun lalu, ada yang menyebut sudah ada sejak zaman Majapahit. Seiring dengan masuknya pengaruh Islam, kegiatan mudik muncul dengan memanfaatkan momentum hari raya Idul Fitri. Mudik dapat dikatakan sebagai kegiatan khas, sekaligus suatu bentuk kearifan lokal bangsa Indonesia.

Dalam dimensi ritual keagamaan (religius) mudik adalah bersilaturahim. Pada hari raya Idul Fitri, selalu diiringi dengan silaturahim dan saling bermaafan. Ada juga yang menyebut mudik lebaran pada hari raya Idul Fitri merupakan fenomena sosial yang rutin setiap tahun terjadi. Fenomena mudik mulai muncul dan menjadi tren sejak kota-kota di Indonesia berkembang pesat khususnya di Jawa pada awal tahun 1970-an.

Akankah fenomena mudik di masa yang akan datang hilang? Siapa yang bisa menjamin mudik akan berkurang atau tidak ada lagi? Mudik lebaran 2022 ini sepertinya menjadi jawabannya. Mudik lebaran khususnya pada hari raya Idul Fitri akan tetap ada.

Mudik telah menjelma sebagai fenomena sosio-kultural. Mudik telah menjadi bagian dalam darah daging manusia Indonesia. Menurut Abdul Hamid Arribathi dan Qurotul Aini dalam “Mudik Dalam Perspektif Budaya Dan Agama (Kajian Realistis Perilaku Sumber Daya Manusia)” (2018), beragam alasan rasional seolah tidak mampu menjelaskan fenomena yang teranyam rapat dalam nilai kultural bangsa Indonesia itu. Pulang mudik sekali setahun tidak hanya sekedar melepas kerinduan pada kampung halaman tetapi mengandung makna yang jauh lebih dalam dari itu.

Kalau hanya sekedar mengobati kerinduan pada keluarga atau kampung halaman, tentu dapat dilakukan di lain waktu, di luar waktu lebaran. Dan untuk itu tidak perlu bersusah payah mencucurkan keringat di perjalanan.

Kehadiran teknologi digital yang canggih sekalipun tetap belum mampu menggantikan ritual mudik lebaran. Komunikasi tatap muka (face to face) melalui internet tetap tak mampu menggantikan jabat tangan, peluk cium dari handai tolan di kampung halaman khususnya dari orang tua.

Seorang ibu akan berkata melalui perangkat teknologi canggih kepada anaknya: “Lebaran ibu tidak memerlukan barang mewah, uang yang banyak atau makanan yang lezat. Ibu ingin kamu hadir di sini, di tempat kamu dilahirkan.” (maspril aries)

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Wartawan Utama/ Penggiat Literasi/ Konten Kreator/ Tutor/ Penulis/ Penerbit Buku -- Palembang

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image