Benteng-Benteng Tersembunyi di Pulau Bangka

Wisata  
Benteng Kota Tempilang. (FOTO: Safira Yasmin)

KAKI BUKIT – Ada banyak berdiri benteng di Indonesia, tapi tidak semua daerah memiliki bangunan benteng atau berupa benteng pertahanan yang menyimpan nilai-nilai sejarah masa lalu dan kini menjelma menjadi destinasi wisata.

Benteng-benteng yang terkenal di Indonesia dan menjadi destinasi wisata diantaranya, di pulau Sumatera ada Benteng Marlborough di Bengkulu, di Palembang ada Benteng Kuto Besak dan Benteng Fort de Kock di Bukit Tinggi, Sumatera Barat (Sumsel).

Di pulau Jawa yang sangat terkenal dan menjadi destinasi wisata favorit adalah Benteng Vrederburg yang berada di kawasan Malioboro, Yogyakarta dan Benteng Van der Wijk di Kabupaten Kebumen. Atau di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) berdiri Benteng Rotterdam.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Benteng-benteng tersebut adalah jejak kolonial berdiri kokoh dengan desain arsitektur dan konstruksi berbentuk bangunan besar. Setiap orang yang datang berwisata ke daerah itu ada yang menjadikannya sebagai destinasi wisata yang wajib dikunjungi karena ada dalam daftar itinerary.

Di antara benteng-benteng yang sudah terkenal tersebut, ternyata ada daerah lainnya juga memiliki bangunan benteng yang namanya kalah top dibanding Benteng Marlborough, Benteng Kuto Besak, Benteng Fort de Kock, Benteng Vrederburg dan Benteng Rotterdam. Benteng-benteng tersebut berdiri dan tersembunyi di Pulau Bangka dalam wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel).

Benteng Tempilang.

Berkunjung ke Pulau Bangka yang juga dikenal dengan pulau timah ada banyak pantai-pantai yang indah yang kerap menjadi tujuan kunjungan wisatawan. Ada pantai yang memanjang menghadap ke Selat Bangka, ada yang menghadap ke Selat Karimata atau Laut Jawa. Wisata Pulau Bangka juga menawarkan aneka kuliner khususnya yang berbahan dasar hasil luat, seperti ikan dan udang.

Perjalanan ke Pulau Bangka kali ini khusus mengunjungi destinasi wisata tersembunyi yang kurang populer dan tidak milenial karena terkait dengan masa lalu. Namun tetap sesekali singgah mencicip kuliner khas yang ada. Kali ini berkunjung ke destinasi situs benteng pertahanan yang ada di pulau ini, ada yang letaknya tersembunyi, maksudnya untuk menjangkau benteng-benteng tersebut butuh waktu yang cukup lama sebelum sampai ke tujuan dengan berangkat dari Pangkalpinang, ibu kota Provinsi Babel.

Benteng Kota Tempilang

Benteng Tempilang.

Ada empat destinasi situs benteng yang bisa dikunjungi di pulau Bangka dengan letaknya menyebar, ada yang ke arah barat, selatan dan utara dari Pangkalpinang. Rute pertama adalah menuju arah barat, tepatnya ke Kecamatan Tempilang di Kabupaten Bangka Barat. Di kecamatan ini ada berdiri bangunan atau puing Benteng Tempilang yang masih tersisa.

Situs Benteng Kota Tempilang memang letaknya tersembunyi karena untuk menjangkaunya dari Pangkalpinang butuh waktu sekitar satu jam lebih melewati jalan desa dan areal perkebunan kelapa sawit. Jaraknya sekitar 75 km.

Untuk mencapai situs Benteng Kota ada dalam wilayah administratif Kecamatan Tempilang, Kabupaten Bangka tidak terlalu mengandalkan panduan digital atau bertanya kepada warga untuk membantu bisa tiba di benteng yang sudah tak utuh lagi. Untuk menjangkaunya di sini tidak ada sarana angkutan umum, jadi harus menggunakan kendaraan pribadi atau sewa.

Benteng Tempilang

Saat tiba Benteng Kota tak ada pemandu wisata yang bisa merangkai kisah tentang benteng ini. Di bagian depan berdiri papan petunjuk yang beirisi informasi bahwa bangun di situ bernama “Situs Benteng Kota Tempilang.” Situs ini dilindungi UU No.11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Rasa ingin tahu bagi mereka uang berkunjung ke sini, jika tak ada pemandu bisa terjawab dengan berselancar di alam maya. Banyak informasi di internet yang bisa menjelaskan tentang situs Benteng Kota. Kawasan situs benteng ini sangat terawat dengan rumput yang hijau menjadi “karpet” menyambut tamu yang datang.

Diberi nama “benteng” karena terlihat jelas dari dindingnya yang menjulang sekaligus dapat disebut sebagai bagian dari sebuah peninggalan sejarah. Peninggalan sejarah masa apa?

Ada sumber cerita di alam maya menulis: Sekitar abad 17 ada seorang pemimpin bernama Kapten Niko berasal dari Portugis yang memiliki ide membangun sebuah benteng dengan bantuan warga setempat. Dengan melibatkan warga Desa Tua benteng dibangun dengan bahan campuran dari tanah kuning, kuning telur dan pasir untuk baha membuat batu. Setelah batu bata kering lalu dipasang menjadi dinding benteng.

Pertanyaannya, benarkah bahwa kapal Portugis dengan awaknya pernah berlabuh di Tempilang? Memang letak benteng tak jauh dari tepian pantai laut Selat Bangka. Benteng menurut data memiliki tinggi dinding tembok 80 meter, lebar 80 meter dan panjang 80 meter ada empat pintu. Benteng ini untuk melindung warga dari perampok. Benteng kota ini roboh tahun 1777.

Walau roboh situs benteng ini tetap meninggalkan pesona dan keindahannya saat ingin berswafoto atau menyediakan spot foto berlatar latar belakang sisa dinding dan puing benteng yang instagramable. Untuk percaya dengan cerita tersebut tentu oke-oke saja.

Selain situs Benteng Kota, di Tempilang juga ada beberapa destinasi wisata lain yang bisa dikunjungi. Destinasi tersebut tak lain dari pantai. Ada satu pantai yang berbeda di sini dengan pantai-pantai lainnya di Pulau Bangka. Di Tempilang ada pantai dengan pasir berwarna kuning. Pantai Pasir Kuning yang berada di Desa Air Lintang. Di tempat ini pada setiap bulan Ramadhan selalu digelar tradisi “Perang Ketupat.”

Dari Tempilang perjalanan bisa dilanjutkan ke situs Benteng Kota Kapur. Menurut kisahnya, di daerah yang masuk dalam wilayah Kecamatan Mendo Barat, dulu berdiri Kerajaan Kota Kapur kerajaan Hindu yang kemudian ditaklukan oleh Kerajaan Sriwijaya. Di sini terkenal dengan penemuan Prasasti Kota Kapur. Prasasti ini sampai 2012 ada di Rijksmuseum Amsterdam. Kemudian dibawa ke Indonesia dan kini bisa dilihat di Museum Nasional Jakarta. Replikanya bisa dilihat di museum yang ada di Palembang dan Pangkalpinang.

Dulu menurut kisahnya, Kota Kapur adalah kota yang dikelilingi benteng, tingginya 3 meter, memanjang dari utara hingga selatan sejauh 2.500 meter. Benteng ini berbeda dengan umumnya benteng yang ada, Benteng Kota Kapur adalah benteng terbuat dengan dinding dari tanah. Menurut data analisa carbon dating, benteng ini diperkirakan sudah ada sejak tahun 532 M. Namun dinding benteng tersebut kini sudah menyatu dengan semak belukar dan tanaman lainnya.

Benteng Kota Kapur memiliki wilayah seluas seluas 132 ha di sana ditemukan reruntuhan Candi, Arca Wisnu, kepala patung Ares (Raja) dan peninggalan bersejarah lainnya. Ada tiga buah situs candi di situ.

Benteng Toboali

Gerbang Benteng Toboali.

Dari Kota Kapur di Kabupaten Bangka perjalanan bisa terus menuju Kabupaten Bangka Selatan (Basel) tepatnya menuju Toboali ibu kota Kabupaten Basel. Dari Pangkalpinang jaraknya sekitar 120 km dengan waktu tempuh sekitar dua jam mengaspal di jalan yang mulus.

Benteng atau situs Benteng Toboali letaknya berada di dalam kota yang terletak persis di pantai yang menghadap ke Selat Bangka selat yang memisahkan pulau Sumatera dengan pulau Bangka.

Benteng Toboali adalah ikonik dari Kabupaten Bangka Selatan yang terletak di Desa Tanjung Ketapang jaraknya sekitar 1,5 km dari pusat Kota Toboali dan mudah dijangkau dengan kendaraan roda dua dan empat.

Benteng Toboali yang berdiri menghadap langsung ke pantai berada di atas sebuah bukit kecil dengan ketinggian sekitar 18 meter diatas permukaan laut (mdpl). Berdasarkan denah rencana Benteng Toboali benteng ini dibangun pemerintah kolonial Belanda tahun 1825. Bertepatan dengan tahun itu, pasukan kolonial di Pulau Jawa tengah berperang dengan pasukan Pangeran Diponegoro.

Situs Benteng Toboali yang tersisa puing dinding batu bata pada masa penjajahan Jepang pernah dikuasai pasukan Dai Nippon tahun 1942-1945. Setelah Indonesia merdeka bangunan dalam benteng ini menjadi kantor Kepolisian Distrik Toboali sekarang bernama Polsek Toboali yang bangunannya berada di luar area benteng.

Benteng Toboali yang dibangun untuk basis pertahanan pemerintah kolonial Belanda memang letaknya strategis bisa memantau langsung pelayaran di laut atau pergerakan pasukan musuh yang datang dari arah laut. Dari benteng ini mata bisa melihat pemandangan kota Toboali dan pantai Nek Aji yang kini dipenuhi kapal ponton isap produksi (warga di sana menyebutnya) untuk menyedot pasir timah dari dasar laut. Juga bisa menjadi tempat menyaksikan saat matahari terbenam.

Puing bangunan situs Benteng Toboali sebagiannya sudah berbalut dengan akar pohon ara. Sudut bangunan benteng dengan akar pohon yang melekat ke dinding kerap menjadi latar spot foto favorit mereka yang datang ke sini.

Bangun Benteng Toboali bentuknya berbeda dengan benteng-benteng yang dibangun kolonial Belanda di Indonesia, seperti berbentuk kura-kura ataupun berbentuk persegi. Benteng Toboali memiliki bentuk tidak atau kurang teratur yang dibangun menyesuaikan kondisi kontur lahan pada sebuah bukit kecil.

Di dalam kawasan benteng ini ada beberapa bangunan yang kini sudah tidak ada, hanya tersisa dinding tembok bangunan dengan pohon belukar dan akarnya yang menempel pada dinding bangunan.

Puing Situs Benteng Toboali.

Awal berdirinya di dalam Benteng Toboali ada bangunan kediaman Inspektur Benteng, kemudian adan bangunan gedung yang terdiri dari dua ruang besar yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan senjata, seragam, bahan makanan dan barang-barang kebutuhan lainnya.

Ada bangunan Barak Prajurit yang dilengkapi dengan kamar mandi dan WC. Bangunan ruang Administrasi dan Keuangan yang dilengkapi dengan ruang penjaga, gudang dan ruang bubuk mesiu. Juga ada bangunan dapur dan gudang penyimpanan makanan. Pada bangunan ada banyak jendela. Ada lima buah yang menyatu dengan tembok dinding benteng. Jendelanya berukuran 192 x 132 cm juga ada lubang intai.

Mengapa kolonial Belanda datang ke Toboali? Jawabannya karena timah. Berdasarkan sejarah timah di Bangka pertama kali ditemukan di Toboali. Sekitar tahun 1709 saat melakukan penggalian di Sungai Olin oleh orang-orang dari Johor ditemukan pasir timah. Pada 2 Juni 1722 Belanda memperoleh hak istimewa untuk menguasai perdagangan timah dari Kerajaan Palembang Darussalam yang saat itu kekuasaannya menjangkau pulau Bangka.

Pada 1819 pemerintah kolonial Belanda menerbitkan Tin Reglement yang menguasai monopoli dan mengatur penambangan timah di Bangka. Bisa jadi Benteng Toboali yang dibangun tahun 1825 dengan biaya dari penjualan timah di Bangka.

Kondisi Benteng Toboali yang tidak lagi utuh tersebut awalnya pada dinding utama memiliki ketebalan berkisar 90-120 cm dengan ketinggian tiga meter. Benteng Toboali yang kini dalam pengawasan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jambi dengan kondisi saat ini butuh perhatian semua stakeholder terkait khususnya pemerintah dan pemerintah daerah sehingga fungsinya sebagai fasilitas publik bersejarah yang dapat dinikmati masyarakat, seperti benteng-benteng lainnya di Indonesia.

Selain Benteng Toboali, di Bangka Selatan ada juga Benteng Penutuk yang berlokasi di Desa Penutuk. Namun benteng ini sudah tidak ada lagi sisa reruntuhannya, yang tersisa hanya meriam yang masih terpasang di dekat pintu masuknya.

Dari arah Selatan pulau Bangka perjalanan bisa menuju ke arah Utara tepatnya menuju Kecamatan Belinyu di Kabupaten Bangka. Di sini juga ada satu benteng berdiri, bernama Benteng Kuto Panji. Benteng ini juga telah ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya Indonesia.

Ceritanya Benteng Kuto Panji dibangun oleh seorang raja di Dataran tinggi Tibet yang melarikan diri ke Pulau Jawa karena adanya ancaman dari Dinasti Qing. Dalam perjalanannya ia hanya sampai di Pulau Bangka. Namanya adalah Bong Khiung Fu. Benteng Kuto Panji berfungsi sebagai pertahanan terhadap serangan bajak laut.

Pembangunan Benteng Kuto Panji yang mengingatkan dengan nama Benteng Kuto Besak di Palembang pada tahun 1664–1669. Bangun benteng ini sekilas mirip konstruksi Benteng Kota Tempilang. Bahan bangunan benteng adalah campuran pasir dan batu yang direkatkan dengan semen dan putih telur. Benteng Kuto Panji yang terus menerus mendapat serangan bajak laut akhirnya rusak tahun 1774.

Situs Benteng Kuto Panji seperti dibiarkan bertahan terhadap gempuran alam sehingga menjadi puing yang butuh perawatan sama seperti benteng-benteng lainnya. (maspril aries)

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Wartawan Utama/ Penggiat Literasi/ Konten Kreator/ Tutor/ Penulis/ Penerbit Buku -- Palembang

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image