Museum Batu Bara Cuma Ada di Indonesia

Wisata  
Museum Batu Bara Tanjung Enim. (FOTO : Humas PTBA Tbk)

KAKI BUKIT – Ada banyak museum di Indonesia, banyak dari jumlah dan juga banyak dari jenis koleksinya. Tapi yang terkait dengan pertambangan batu bara, museum batu bara di Indonesia cuma ada. Mau tahu lokasinya?

Museum batu bara di Indonesia hanya terdapat di Sawahlunto, Sumatera Barat (Sumbar) dan Tanjung Enim, Sumatera Selatan (Sumsel). Kenapa hanya ada di daerah itu? Karena sejak zaman Hindia Belanda kedua daerah itu sudah dikenal sebagai daerah pertambangan yang memproduksi batu bara. Tanjung Enim kini batu bara masih terus diproduksi oleh PT Bukit Asam (PTBA) Tbk sebuah badan usaha milik negara (BUMN) milik pemerintah Indonesia.

Museum Batu Bara atau museum yang menyimpan berbagai benda dan catatan bersejarah terkait dengan pertambangan batu bara yang pertama ada dan berdiri di Indonesia adalah museum batu bara di Kota Sawahlunto. Museum ini oleh Pemerintah Kota Sawahlunto diberi nama “Museum Situs Lubang Tambang Mbah Soero."

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Kota ini, tempat ini dan semua yang terkait dengan penambangan batu bara pada zaman kolonial menyimpan catatan kelam tentang pekerja paksa di pertambangan. Untuk menjangkau museum batu bara ini atau kota Sawahlunto jika dari Padang, ibu kota Provinsi Sumbar butuh waktu sekitar tiga jam. Atau menurut Google berjarak tak sampai 100 km, berkisar 98 km.

“Museum Situs Lubang Tambang Mbah Soero. (FOTO : Maspril Aries)

Untuk masuk ke Lubang Tambang Mbah Soeoro pengunjung harus helm pelindung kepala dan safety shoes alias sepatu tambang. Untuk masuk museum dan lubang tambang pengunjung kenakan membayar tiket masuk yang besarnya Rp10.000 per orang.

Cerita yang diperoleh jika berkunjung ke sini ada tentang sejarah awal ditemukan kandungan batu bara pada tahun 1858 oleh seorang ahli geologi de Groet berkebangsaan Belanda, di sekitar Sungai Ombilin. Tahun 1892 Pemerintah Hindia Belanda mulai memproduksi pertambangan batu bara Ombilin.

Nama Mbah Soero adalah nama seorang mandor yang bertugas mengawasi pekerja tambang. Mbah Soero adalah orang disegani oleh para buruh warga di Ombilan zaman itu. Lubang Mbah Soero sendiri adalah lubang penggalian batu bara di tambang dalam atau tambang bawah tanah. Lubang tersebut tinggi dan lebar sekitar 2 meter kedalamannya mencapai 15 m dari permukaan tanah. Total panjang lubang mencapai ratusan meter namun belum semua dibuka sebagai destinasi wisata.

Museum Pendidikan Sawah Luwung memanfaatkan lubang bekas tambang atau tambanng dalam batu bara. (FOTO : Website : PTBA)

Kemudian pasca dihentikannya operasi penambangan batu bara di Ombilin, PTBA menjadikan lubang tambang Sawah Luwung sebagai Museum Pendidikan sejak 2017. Museum ini menjadi rujukan bagi pelajar dan mahasiswa untuk belajar dan berpraktik soal pertambangan dalam atau bawah tanah sekaligus menjadi pusat uji sertifikasi khususnya untuk keahlian tambang.

Di Sawahlunto sendiri selain Museum Situs Lubang Tambang Mbah Soeoro juga ada Museum Kereta Api dan Museum Goedang Ransoem.

Museum batu bara yang kedua ada di Tanjung Enim Kabupaten Muara Enim. Di Tanjung Enim ada kantor pusat PTBA BUMN tambang batu bara dan BUMN ini yang membangun museum tersebut. Museum ini belum seumur jagung juga belum sepekan. Baru diresmikan tepat pada HUT Republik Indonesia yaitu 17 Agustus 2022.

Museum Batu Bara di Sawahlunto. (FOTO : Maspril Aries)

Museum ini dibangun PTBA sebagai bagian dari Program Tanjung Enim Kota Wisata dengan tujuan menjadi kawasan tambang batu bara di daerah dapat menjadi destinasi wisata dan mandiri setelah kandungan batu bara sudah habis seperti di Ombilin, Sawahlunto.

Museum Batu bara Tanjung Enim ini merupakan salah satu aset yang dibangun untuk menyimpan aneka koleksi yang berkaitan dengan pertambangan batu bara, tempat konservasi dan riset serta edukasi hiburan.

Menurut Direktur Operasi dan Produksi PTBA Suhedi kehadiran Museum Batu Bara adalah wujud komitmen PTBA dalam hal visi sustainability, khususnya pengelolaan masyarakat dan lingkungan yang berkelanjutan. “Kami berharap nantinya museum ini memberikan manfaat yang besar melalui pengelolaan yang baik dengan melibatkan unsur masyarakat,” katanya.

Museum Batu Bara Tanjung Enim sekaligus menjadi landscape dan objek wisata pendidikan bagi masyarakat Sumatera Selatan sekitarnya termasuk dari daerah lainn, karena di museum ini terdapat banyak koleksi edukasi dan informasi, seperti jenis-jenis batu bara, ruang kereta bawah tanah, alat-alat tambang yang digunakan pada masa lalu, ruang theater audio visual dan sejarah pimpinan Bukit Asam dari masa ke masa.

Di museum ini pengunjung dapat mengetahui sejarah pertambangan batu bara dari era kolonial sampai saat ini. Selain itu, kereta akan membawa pengunjung serasa di dalam tambang bawah tanah. Museum Batu Bara ini berdiri dalam sebuah kompleks seluas 4,5 hektar.

Sekarang sudah tahu kan, ada banyak museum di Indonesia dengan beragam koleksinya. Namun Museum Batu Bara di Indonesia saat ini hanya ada dua museum, satu ada di Kota Sawahlunto, satu Museum Batu Bara lainnya ada Tanjung Enim yang berjarak sekitar 200 km dari Palembang, ibu kota Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel). (maspril aries)

Berita Terkait

Image

Ayo Daftar Kuliah di AKIPBA dengan Beasiswa Penuh 100 Persen

Image

Dua BUMN dari Sumsel Satu Tahun Raup Cuan Besar

Image

Usia 41 Tahun Bukit Asam Bertransformasi Menjadi Perusahaan Energi

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Wartawan Utama/ Penggiat Literasi/ Konten Kreator/ Tutor/ Penulis/ Penerbit Buku -- Palembang

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image