Irwin Bizzy Pemegang Dua Paten Teknologi Tenaga Surya Jadi Guru Besar Unsri

Teknologi  
Pidato pengukuhan Irwin Bizzy. (FOTO : Tangkapan Layar Youtube Unsri)

KAKI BUKIT – Selama dua hari berturut, 4 dan 5 September 2023 Universitas Sriwijaya (Unsri) menyelenggarakan pengukukuhan guru besar baru. Ada 24 guru besar yang menyampaikan pidato pengukuhan pada acara yang berlangsung di Auditorium Unsri kampus Indralaya.

Salah satu guru besar yang baru dikukuhkan Prf Dr Ir H Irwin Bizzy, MT berasal dari Fakultas Teknik sebagai guru besar teknik mesin. Pada upacara pengukuhan yang dipimpin Rektor Unsri Anis Saggaff tersebut, guru besar kelahiran Bangka, 28 Mei 1960 menyampaikan pidato pengukuhan berjudul “Aplikasi dan Pengembangan Teknologi Surya: Pemanfaatan Langsung Sebagai Energi Panas dan Tidak Langsung Sebagai Energi Listrik”.

Sebagai dosen pada Fakultas Teknik Unsri Irwin Bizzy menekuni penelitian dan pengembangan teknologi energi baru terbarukan (EBT) khususnya tenaga surya. Dari gagasan dan pemikirannya bersama koleganya di Unsri, suami dari pasangan Prof Nurhayati yang juga guru besar pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) telah memiliki dua paten teknologi tenaga surya yang terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Bersama Prof Irwin Bizzy dan istri Prof Nurhayati usai upacara pengukuhan. (FOTO : Dok. Aina R Aziz)

Dua paten tersebut, “Kolektor Surya Berlubang Bersayap Empat” yang terdaftar paten pada 2018 dan “Pembuatan Teh Gaharu Siap Seduh” tahun 2019 yang bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah.

Khusus untuk teknologi pembuatan teh gaharu menurut Irwin, di Bangka Tengah tanaman gaharu telah menjadi budidaya yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.

“Teh gaharu ini memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder alkaloid, saponin, tanin, fenol yang merupakan antioksidan. Tanin dan fenol merupakan senyawa fungsional dalam daun gaharu bersifat anti oksidan. Daun gaharu muda lebih tinggi sifat anti oksidannya dibanding daun gaharu tua. Bila diminum menjelang tidur, di pagi hari keesokannya terasa adanya peningkatan stamina, terasa nyaman dan segar kembali,” ujar Irwin Bizzy yang sempat menjabat Kepala Bappeda Kabupaten Bangka Tengah.

Pada bagian lain pidatonya, Irwin menjelaskan tentang pemanfaatan tidak langsung cahaya matahari secara tidak langsung dengan menggunakan teknologi sel surya. “Pengertian sel surya atau solar cell adalah suatu perangkat atau komponen yang dapat mengubah energi matahari menjadi energi listrik dengan menggunakan prinsip efek photovoltaic, yaitu suatu fenomena di mana munculnya tegangan listrik karena ada hubungan atau kontak elektroda yang dihubungkan dengan sistem padatan atau cairan saat mendapatkan energi cahaya,” katanya pada pengukuhan yang dihadiri Ketua DPRD Bangka Tengah Me Hoa.

Irwin juga mengjelaskan beberapa alasan sederhana kenapa sel surya belum menjadi unggulan sektor penghasil energi di banyak negara dikarenakan untuk menyimpan energinya berupa baterai masih mahal dan harga panel surya relatif mahal. “Namun kini dengan adanya penemuan material semikonduktor yang kemampuannya lebih besar lagi, harganya mulai berkurang”, ujarnya.

Untuk menekan mahalnya harga komponen energi listrik tenaga surya, Irwin Bizzy menyarankan untuk terus dilakukan penelitian sehingga menghasilkan teknologi yang murah. Salah satunya dengan mengurangi biaya produksi sel surya serendah mungkin sehingga harganya semakin murah.

Irwin juga mengungkapkan kelemahan dari panel surya, yaitu bila pada temperatur tinggi dengan cahaya matahari cukup besar. “Penelitian menunjukkan bahwa efisiensi panel surya masih rendah bila cahaya matahari yang diterima oleh permukaan panel surya dalam W/m2 adalah sangat tinggi, menyebabkan temperatur panel surya sangat tinggi tapi efisiensinya rendah,” katanya.

Sebagai contoh, hasil penelitian pada temperatur 25 derajat Celsius menghasilkan daya 100 W, sedangkan pada temperatur 65 derajat Celcius menghasilkan daya 79,5 W. “Produksi daya paling efisien oleh panel surya adalah sebesar 15,34 persen pada temperatur panel surya rendah, yaitu 25 derajat Celcius pada caya matahari 1.000 W/m2,” kata Irwin Bizzy.

Pada bagian akhir pidato pengukuhannya, guru besar Fakultas Teknik Unsri tersebut menyampaikan, dalam mengatasi efisiensi panel surya yang rendah pada temperatur permukaan panel surya yang tinggi dibutuhkan metode pendinginan panel surya. “Secara umum ada dua metode pendinginan panel surya, yaitu metode pendinginan aktif dan pasif,” ujarnya. (maspril aries)

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Penggiat Literasi-Tutor-Penulis & Penerbit Buku -- Palembang

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

[email protected] (Marketing)

× Image