Benny Arnas Penulis 27 Buku + 200 Cerpen + 200 Esai

Literasi  
Benny Arnas (FOTO : Instagram @bennyarnas)

“Di beberapa kesempatan, ia menyelinap dalam perbincangan. Tak hanya oleh kerumunan perawan, tapi juga ibu-ibu yang mulai beruban. Ada yang bilang ia titisan Yusuf. Ada yang menduga ia Malaikat yang menyusup.” (Cerpen “Bujang Jauh”)

KAKI BUKIT – Berkenalan dengan penulis Benny Arnas adalah perkenalan melalui interaksi literer dengan membaca karya-karyanya yang bertebaran di media massa dari cetak sampai online. Benny Arnas adalah nama penulis lokal yang sudah go nasional dan bahkan internasional.

Mengapa tergolong penulis lokal? Karena Benny Arnas yang pada 8 Mei 2022 berusia 39 tahun adalah penulis yang memang tinggal di daerah di sebuah daerah administratif dalam Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) bernama Kota Lubuklinggau. Jarak Palembang (ibu kota Sumsel) dengan Lubuklinggau lebih dari 300 km. Dari kota ini Benny Arnas menembus panggung kepenulisan nasional melalui karya fiksi dan non fiksi.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Benny Arnas yang menyelesaikan studinya Universitas Andalas (Unad) Padang, Sumatera Barat (Sumbar) memilih kembali ke kotanya, Lubuklinggau. Dia tidak hengkang ke ibu kota negara Jakarta atau ke Palembang untuk membidik Indonesia dengan karya prosa-nya, tapi dia memilih bermukim di Lubuklinggau yang sejak dulu dikenal sebagai kota perlintasan bagi siapa pun yang akan menuju ke Bengkulu atau Padang dan kota-kota lainnya di Sumatera Barat dan Jambi.

Dari Lubuklinggau karya-karyanya khususnya cerpen dan esai bertebaran di berbagai media massa nasional edisi cetak seperti Republika, Kompas, Media Indonesia atau Koran Tempo dan Jawa Pos serta media massa yang terbit di daerah seperti Sumatera Ekspres di Palembang atau Lampung Post di Bandarlampung dan lain sebagainya. Belum lagi di media online.

Selain interaksi literer, mengenal dan berkomunikasi dengan Benny Arnas antara kami terjalin melalui platform media sosial, ada komunikasi via Facebook, Instagram dan WhatsApp. Bukan karena pandemi yang membuat kami belum pernah bersua langsung, tapi karena memang belum ada momentum untuk bertemu langsung di satu tempat. Perkenalan dan pertemuan lebih intens lewat alam maya. Semua yang serba digital memudahkan setiap informasi mengalir walau tanpa mengharuskan ada pertemuan.

Cerpen pertama Benny Arnas menembus media massa nasional berjudul “Dua Beranak Temurun” yang terbit akhir 2008 saat usianya masih 25 tahun. Sejak saat itu berbagai karya fiksinya mulai banyak bertebaran dan bisa dibaca pada berbagai media, dari yang terbit di Jakarta sampai yang terbit lokal di berbagai daerah. Sampai saat ini sudah ada 27 buku yang terbit saat dirinya berusia 39 tahun.

Benny Arnas dan keluarga.

Di Sumatera Selatan, Benny Arnas adalah salah satu penulis lokal yang sangat produktif juga dengan segudang prestasi. Di Sumsel tahun 2009 dia meraih Anugerah Kesenian Batanghari Sembilan. Dari Balai Bahasa Sumsel cerpennya berjudul “Hikayat Presiden Kurap” terpilih sebagai Cerpen Media Massa Sumatera Selatan Terbaik tahun 2014.

DI tingkat nasional anak pertama dari empat bersaudara ini tahun 2012 cerpennya berjudul “Air Akar” dinobatkan sebagai Karya Fiksi Terbaik Tulis Nusantara oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif setelah menyingkirkan lebih dari 13.000 naskah cerpen.

Prestasi terbarunya, tahun 2021, novelnya berjudul “Kayu Lapuk Membuat Kapal” berhasil menjadi salah satu pemenang pada “Lomba Menulis Novel tentang Kanjeng Nabi Muhammad SAW 2021” yang diselenggarakan sebuah penerbitan buku. Hadiahnya uang sebesar Rp20 juta ditambah paket buku dan kontrak penerbitan novel. Novel ini sekaligus menjadi bukunya ke-27.

“Sampai 2022 baru 27 judul buku, lebih dari 200 cerpen yang terbit di media massa cetak dan online. Kalau esai ada sekitar 200 juga,” kata Benny Arnas.

Tak hanya prestasi, dari menulis Benny Arnas bisa melalangbuana ke beberapa negara dan juga ke beberapa daerah di Indonesia. Pada awal 2022 Benny Arnas baru saja kembali dari kunjungan ke Turki dan beberapa negara lainnya di kawasan Balkan.

Sebelum pandemi Covid-19 melanda dunia selama April-Mei 2019, atas dukungan sponsor, Benny Arnas melawat ke Perancis, Jerman, Austria, Slovenia, Kroasia, Hungaria, Ceko, Belanda, Belgia, Spanyol, dan Portugal, dalam rangka riset bakal novel-perjalanan.

Pada 2016 Benny Arnas menjadi Sastrawan Terpilih dalam “Cultural Activist to New Zealand.” Tahun 2015 melalui “Artist Creative Course” dia menjelajahi Australia, masih pada tahun tersebut dia menuju Uni Emirat Arab dalam “Cultural Trip to the Creators.” Ada 15 negara di muka bumi yang didatanginya, ditulisnya dalam catatan perjalanan. Semua itu atas biaya sponsor.

Juga sudah ada bukunya yang diadaptasi atau diekranisasi ke film layar lebar. Diantaranya, “Cinta Menggerakkan Segala” ke film “212 The Power of Love” tahun 2018 dan novel “Hayya” menjadi film dengan judul yang sama tahun 2019.

Benny Arnas, novel Hayya dan film Hayya.

Sastra Kampung Halaman

Benny Arnas juga menorehkan prestasi lainnya yang hebat berupa kepeduliannya pada dunia literasi. Di kota kelahirannya dia mendirikan Bennyinstitute sebuah lembaga kebudayaan yang membuka taman bacaan terbuka, kelas menulis dan seni peran gratis, dan rutin menyelenggarakan diskusi, lokakarya, dan pertunjukan. Apa yang dilakukan Benny Arnas mirip dengan yang dilakukan Gol A Gong yang kini menjadi Duta Baca Indonesia dengan mendirikan “Rumah Dunia” di Serang.

Itu semua menjadi catatan atau narasi tentang sosok penulis yang lahir, besar dan menetap di Lubuklinggau, jika semua hendak ditulis akan panjang catatannya. Namun bagaimana dengan karyanya sebagai seorang penulis juga seorang sastrawan, sekaligus pendidik.

Membaca karya sastra Benny Arnas adalah melihat dan menemukan sesuatu yang terlahir karena adanya keinginan darinya untuk menuangkan ide-ide kreatif dan imajinatif yang dilihat, dirasakan, dan diperhatikan dalam kehidupan nyata ke dalam naskah bernama cerpen, novel atau naskah lakon yang semuanya saat sekolah dimasukan dalam satu rumpun bernama prosa.

Membaca karya Benny Arnas adalah menelusuri ruang imajinatif di dalamnya ada banyak lagi ruang, ada ruang ruangan yang indah-indah, memikat, tragis, menyedihkan, dan kaya akan lelucon-lelucon. Benar adanya bahwa karya sastra itu adalah mengkaji dan memahami hakikat manusia ketika berhadapan dengan hidup dan kehidupan.

Membaca karya sastra Benny Arnas adalah pintu untuk mengenal tentang Lubuklinggau dan Musi Rawas (Mura) dan Musi Rawas Utara (Mura). Seperti dalam kumpulan cerpen “Bulan Celurit Api” merefleksikan budaya Melayu di daerah tempat tinggalnya.

Joni Jaka di laman temusastrawannusantara.blogspot.com menyebut Benny Arnas sebagai pengusung sastra kampung halaman, yaitu sastra yang lahir berdasarkan pengalaman hidup sehari-hari pengarangnya. Karyanya membawa unsur lokal dari daerah tempat di mana pengarang lahir dan tumbuh besar, yang dieksploitasi secara cerdas dan oportunitis oleh pengarang. Karyanya begitu sarat dengan kritik sosial budaya masyarakat suku Melayu di Lubuklinggau, Sumatera Selatan.

Dari sebuah penelitian Diah Irawati berjudul “Refleksi Budaya Lubuklinggau dalam Kumpulan Cerpen Bulan Celurit Api Karya Benny Arnas,” (2013) menyebutkan bahwa kumpulan cerpen Bulan Celurit Api merefleksikan budaya Melayu Lubuklinggau yang tercermin dari perilaku tokoh.

Secara keseluruhan jika dilihat dari unsur yaitu, sistem keagamaan, sistem peralatan dan perlengkapan hidup manusia, sistem mata pencaharian dan sistem kemasyarakatan, cerpen-cerpen karya Benny Arnas merefleksikan keadaan masyarakat Lubuklinggau, ada yang merefleksikan keadaan saat ini dan ada yang merefleksikan keadaan masa lampau.

Sebenarnya Benny Arnas bukan hanya penulis berlabel pengusung sastra kampung halaman apa lagi jagoan kandang. Ia juga menerawang jauh ke luar menjejakkan kaki dan imajinasinya mondial. Tinggal dan menetap boleh di Lubuklinggau namun imajinasinya terbang seluas cakrawala. Silahkan baca novelnya yang berjudul Ethile Ethile.

Novel Ethile karya Benny Arnas bukan hanya sekedar imajinasi mondial, tapi ini adalah pengalaman perjalanannya dari Lubuklinggau ke beberapa negara Eropa. Ada banyak latar tempat di luar negeri yang ia gambarkan sebagai sebuah potret dari reportase jurnalistik perjalanan yang menarik. Membaca Ethile adalah melihat potret berbagai kondisi sosial dan lingkungan dimana saat Benny Arnas menuangkan imajinasi dalam sebuah naskah. Dalam novel setebal 416 halaman budak Linggau ini menuliskan sangat detail.

Novel Ethile karya Benny Arnas ini menggambarkan perjalanan seorang laki-laki pengidap ganguan tidur ketindihan yang bernama Venn Nasution lalu, dipertemukan dengan Ethile Mathias, pemuda Austria yang memfasilitasi perjalanan menulisnya selama dua bulan di Eropa.

Yang perlu dicatat Novel Ethile banyak menyampaikan pesan moral dan kemanusiaan serta pembelaan harkat martabat seorang manusia dalam kehidupannya. Pesan dalam novel ini adalah mengajarkan seseorang untuk selalu sabar dan bersyukur atas apa yang mereka dapatkan.

Saat membaca karya-karya sastra Benny Arnas banyak berserobok dengan gaya bahasa yang menarik. Mengutip Nyoman Kutha Ratna dalam “Estetika Sastra dan Budaya” (2007), bahwa aspek-aspek keindahan sastra justru terkandung dalam pemanfaatan gaya bahasanya. Oleh karena itu, gaya bahasa berperan penting dalam menentukan nilai estetik karya sastra.

Gaya bahasa dalam karya sastra disusun untuk mengungkapkan pikiran secara khas yang memperlihatkan perasaan jiwa dan kepribadian penulis. Salah satu bentuk gaya bahasa yaitu metafora. Gaya bahasa metafora kerap dijumpai pada karya-karya Benny Arnas.

Seperti pada novel Curriculum Vitae menurut Ilham Afif Maulana dalam “Gaya Bahasa Metafora dalam Novel Curriculum Vitae,” (2020), banyak penggunaan bentuk metafora ditemukan dalam novel Curriculum Vitae. Ada bentuk metafora antropomorfik, metafora kehewanan, metafora dari konkret ke abstrak dan metafora sinestesis.

Metafora adalah pemakaian kata atau kelompok kata bukan dengan arti sebenarnya yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Metafora dalam karya sastra banyak dijumpai dalam puisi untuk menimbulkan kesan mewah, namun tidak sedikit pula pengarang yang memanfaatkan metafora dalam karya sastra prosa khususnya novel.

Memang gaya bahasa metafora dalam novel memberikan fungsi estetik dalam meninggikan selera pembaca, mempengaruhi atau meyakinkan pembaca, menciptakan perasaan hati tertentu, dan memperkuat efek terhadap gagasan pengarang dalam novel.

Itulah sebagian kecil dari interaksi literer dengan Benny Arnas yang bermukim di Lubuklinggau namun belum sempat berinteraksi di atas satu meja berteman dua gelas kopi. Happy Milad Bro Benny Arnas. (maspril aries)

Berita Terkait

Image

Ajari Saya Menulis Feature (Ficer)

Image

Muhammadiyah Dirikan ITMS di Musi Rawas

Image

Ada Wacana Pemekaran Sumsel Barat

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Wartawan Utama/ Penggiat Literasi/ Konten Kreator/ Tutor/ Penulis/ Penerbit Buku -- Palembang

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image