SEA Games Bermula dari SEAP Games

Olahraga  
Sejumlah atlet dan ofisial kontingen Indonesia memasuki area pembukaan saat defile upacara pembukaan SEA Games 2021 di Stadion Nasional My Dinh, Hanoi, Vietnam, Kamis (12/5/2022). Tim Indonesia membawa 499 atlet yang akan berlaga di SEA Games ke-31 Vietnam. (FOTO : ANTARA/Zabur Karuru)

KAKI BUKIT – Pesta olahraga negara-negara Asia Tenggara SEA Games ke-31 di Vietnam yang sempat tertunda akibat pandemi Covid-19 akhirnya bisa berlangsung. Kamis (12/5) Presiden Vietnam Nguyen Xuan Phuc secara resmi membuka perhelatan SEA Games di Stadion My Dinh, Hanoi. SEA Games seharusnya berlangsung 21 November - 2 Desember 2021.

Pada SEA Games di Hanoi ini adalah keikutsertaan kontingen Indonesia yang ke-23 sejak Indonesia pertama kali diundang ke pesta olahraga antar bangsa di kawasan Asia Tenggara pada SEA Games IX tahun 1977. Indonesia tidak ikut serta saat SEA Games masih bernama SEAP Games atau Southeast Asian Peninsular Games atau disingkat “SEAP Games” yang menjadi cikal bakal Pesta Olahraga Asia Tenggara (SEA Games).

Indonesia tidak ikut serta sejak SEAP Games edisi I tahun 1959 sampai SEAP Games VIII tahun 1975. Atlet Indonesia baru unjuk gigi pada SEAP Games yang telah berganti nama menjadi SEA Games IX yang berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia dari 19 – 26 November 1977.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Mengapa nama SEAP Games berubah menjadi SEA Games, apa hubungan dan bedanya dengan Asian Games? Sebelum ada SEAP Games di Asia sudah ada pesta olah raga yang diberi nama Asian Games dengan melibatkan negara-negara di Asia termasuk Indonesia. Asian Games I diselenggarakan di New Delhi, India tahun 1954. Indonesia yang baru saja medeka pada 17 Agustus 1945 diundang dan ikut serta pada Asian Games I yang berlangsung 4-11 Maret 1951 dan dibuka presiden pertama India Rajendra Prasad.

Kontingen Indonesia berangkat ke Asian Games di India tersebut dengan kekuatan 35 atlet untuk mengikuti dua cabang olah raga, yaitu sepak bola (18 atlet) dan atletik (17 atlet). Pada Asian Games I tersebut Jepang tampil sebagai juara umum dan diikuti tuan rumah India menempati posisi kedua. Indonesia sendiri berada para peringkat tujuh dengan membawa pulang lima medali perunggu yang diraih dari cabang atletik. Ini sebuah prestasi yang mengagumkan dari atlet yang berasal dari sebuah negara yang belum genap enam tahun merdeka.

Setelah tiga edisi Asian Games berlangsung, Indonesia pun mendapat giliran untuk menjadi tuan rumah Asian Games IV. Indonesia terpilih sebagai tuan rumah Asian Games IV dalam pertemuan Asian Games Federation tahun 1958 yang berlangsung di Tokyo, Jepang bersamaan dengan pelaksanaan Asian Games III. Sebelum berangkat, waktu itu Presiden Soekarno berpesan kepada kontingen Indonesia, “Kembalilah dengan Asian Games IV ke Jakarta.”

Dalam pemilihan tuan rumah Asian Games IV yang diselenggarakan Asian Games Federation, Indonesia mengungguli Taiwan dan Pakistan dalam pemungutan suara cukup mengejutkan. Banyak delegasi negara anggota Asian Games Federation yang tidak menyangka bahwa Indonesia akan memenangi pemilihan tuan rumah Asian Games IV.

Bersamaan dengan itu muncul keraguan di kalangan negara Asia, Indonesia mereka nilai elum mampu menggelar perhelatan olahraga sebesar Asian Games. Sampai koran The Straits Times Singapura menulis, ”Lonceng kematian Asian Games telah berbunyi di Jakarta.” Semua keraguan itu terbantahkan. Sejarah mencatat sebaliknya, Indonesia sukses menyelenggarakan Asian Games IV tahun 1962.

Sukses menjadi tuan rumah Asian Games 1962, Indonesia yang selalu berpartisipasi pada semua edisi Asian Games lalu diajak berpartisipasi pada SEA Games yang lahir dari SEAP Games, yaitu pesta olah raga dengan pesertanya negara-negara yang ada di semenanjung Asia Tenggara. SEAP Games dicetuskan oleh Laung Sukhumnaipradit yang menjabat Wakil Presiden Komite Olimpiade Thailand. SEAP Games lahir dengan tujuan menjalin kerjasama yang erat, pemahaman dan hubungan antar negara di kawasan ASEAN.

Sejarah SEA Games sendiri tidak terlepas dari SEAP Games. SEAP Games dicetuskan oleh Laung Sukhumnaipradit pada 22 Mei 1958 di sela-sela pelaksanaan Asian Games III di Tokyo. Saat itu delegasi dari negara-negara Asia Tenggara yang hadir Jepang yaitu dari Thailand, Burma (sekarang Myanmar), Malaya (sekarang Malaysia), Laos, Vietnam Selatan dan Kamboja melakukan pertemuan dan sepakat untuk mengadakan sebuah event olah raga dua tahun sekaligus dibentuk sebuah juga Komite Federasi SEAP Games.

Kemudian SEAP Games I diselenggarakan di Bangkok, Thailand 12 - 17 Desember 1959 yang diikuti oleh lebih dari 527 atlet dan ofisial dari Thailand, Burma, Malaysia, Singapura, Vietnam dan Laos. Para atlet berlaga pada 12 cabang olahraga.

Pada SEAP Games VIII tahun 1975, Federasi SEAP mempertimbangkan masuknya Indonesia dan Filipina yang sama-sama menjadi anggota Asean. Indonesia dan Filipina masuk secara resmi pada 1977, dan pada tahun yang sama Federasi SEAP berganti nama menjadi Southeast Asian Games Federation (SEAGF). Ajang pesta olahraga negara-negara di semenanjung Asia Tenggara berubah menjadi Pesta Olahraga Negara-Negara Asia Tenggara.

Lalu pada SEA Games X yang berlangsung di Jakarta tahun 1979 SEAGF menerima negara Brunei bergabung sebagai peserta. Dan pada SEA Games XXII di Hanoi, Vietnam tahun 2003 negara Timor Leste bergabung.

Sejak 1977 setiap dua tahun negara-negara Asia Tenggara bergantian menjadi tuan rumah SEA Games. Malaysia empat kali (1977, 1989, 2001, 2017), Filipina (1981, 1991, 2005, 2019), Indonesia (1979, 1987, 1997, 2011), dan Thailand (1985, 1995, 2007). Sementara itu, Singapura tuan rumah (1983, 1993, 2015), Vietnam (2003, 2021), Brunei (1999), Laos (2009) dan Myanmar (2013). Negara Kamboja dan Timor Leste belum pernah menjadi tuan rumah.

Keikutsertaan atlet-atlet Indonesia pada SEA Games 1977 di Kuala Lumpur merupakan merupakan momen sejarah yang patut dikenang tentang kejayaan olahraga Indonesia diantara negara-negara anggota Asean saat itu.

Sebagai pendatang baru kekuatan atlet Indonesia saat itu tidak bisa ditebak, karena mereka hanya bertanding pada pesta olahraga multi even yang hanya berlangsung empat tahun sekali yakni Asian Games. Sebelum Indonesia turut serta, SEAP Games selalu didominasi atlet Thailand dan Burma (Myanmar).

Kedatangan dan pretasi atlet Indonesia yang berlaga di Kuala Lumpur saat itu membuat banyak orang tercengang, banyak yang tidak percaya atlet-atlet Indonesia mampu mendominasi beberapa cabang olahraga dalam meraup medali emas. Salah satunya dari cabang renang.

Di cabang renang perenang Indonesia putra dan putri sapu bersih medali emas. Hanya satu medali emas dari nomor renang putra yang lepas dari perenang Indonesia ketika Kun Hantyo disalip perenang Filipina menjelang finis. Perenang negara lain, Singapura dan tuan rumah Malaysia tidak berdaya menghadapi Kristiono Sumono di gaya bebas, Lukman Niode di gaya punggung, maupun dua bersaudara Item (Gerald dan John) di gaya kupu-kupu. Para perenang putri Indonesia juga menunjukkan keandalannya berhadapan dengan ratu renang Singapura saat itu Junie Sng. Perenang Nanik Suwadji (Nanik Surjaatmaja) adalah bintang renang putri Indonesia saat itu.

Kehadiran dan prestasi atlet Indonesia saat itu banyak membuat penonton terpana. Di cabang bola voli, Gugi Gustaman dan kawan-kawan sukses menumbanghkan Burma yang menjadi penguasa cabang olahraga tersebut. Di cabang panahan Donald Pandiangan yang dijuluki Robin Hood Indonesia bersama pemanah Leanne Suminar dan kawan-kawan nyaris menyapu bersih medali emas panahan. Lely Sampurno mampu menandingi dominasi petembak Thailand.

Di cabang petinju Syamsul Anwar, Wim Gomies, dan Beni Maniani mampu meraih emas menerobos dominasi petinju Thailand dan Filipina. Kemudian di cabang olahraga bulu tangkis, tenis, dan tenis meja atlet-atlet Indonesia sangat perkasa. Pada cabang bulutangkis Indonesia sapu bersih hanya satu medali emas yang tersisa diraih Sylvia Ng dari Malaysia pada nomor tunggal putri..

Pada cabang tenis praktis dikuasai Indonesia melalui atlet Atet Wiyono, Yustedjo Tarik, Hadiman, Yolanda Soemarno, dan Lita Sugiarto. Para petenis meja diantara Empie Wuisan, Faisal Rachman, dan Diana Tejasukmana juga menorehkan dominasi Indonesia di Asia Tenggara saat itu.

Indonesia yang baru pertama kali berpartisipasi di SEA Games sukses menjadi juara umum dengan meraih 137 medali (62 emas, 41 perak dan 34 perunggu) menggusur dominasi Thailand yang sebelum menjadi juara umum pada SEAP Games ke-8 tahun 1975.

Namun kini saat atlet Indonesia berlaga di SEA Games XXXI Vietnam pada SEA Games XXX di Filipina kontingen Indonesia berada pada peringkat 4 di bawah Filipina, Vietnam dan Thailand. Peringkat ini lebih baik dibanding pada SEA Games XXIX di Malaysia tahun 2017 bercokol pada peringkat 5. Mampukah atlet Indonesia memperbaiki prestasinya seperti yang disampaikan Presiden Joko Widodo saat melepas para atlet, mendongkrak ke peringkat 3 atau kembali sebagai juara umum? Mari kita doakan bersama, semoga atlet-atlet Indonesia meraih prestasi terbaik memenuhi harapan Presiden dan rakyat Indonesia. (maspril aries)

Berita Terkait

Image

LRT Palembang Sepi Penumpang, Ridwan Kamil Minta Maaf

Image

China Minta Stop, Kuwait Temukan Cadangan Migas di Laut Natuna

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Wartawan Utama/ Penggiat Literasi/ Konten Kreator/ Tutor/ Penulis/ Penerbit Buku -- Palembang

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image