Senjata Mengalir di Negara Ini Seperti Air

Politik  
Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengunjungi Robb Elementary School lokasi penembakan massa, 24 Mei 2022, di Uvalde, Texas. (FOTO : Instgram @potus)

KAKI BUKIT – Amerika Serikat kembali dirundung duka. Negara itu kembali dilanda kasus penembakan massal yang terjadi di sekolah dan merenggut nyawa anak-anak. Peristiwa penembakan terjadi di Robb Elementary School, Uvalde, Texas.

Seorang remaja memuntahkan tembakan membabi-buta ke arah anak-anak di sekolah tersebut yang mengakibatkan 19 anak dan dua orang dewasa tewas. Pelaku penembakan tewas di tempat kejadian setelah tertembak polisi karena melawan. Pria bersenjata itu diidentifikasi bernama Salvador Ramos.

Insiden di Robb Elementary School merupakan penembakan massal ke-30 yang terjadi di sekolah di Amerika Serikat sejak awal 2022. Penembakan di Texas Selatan tersebut terjadi hanya berselang sepekan setelah peristiwa penembak massal yang membunuh 10 orang pada sebuah super market di Buffalo, New York.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Penembakan Robb Elementary School menjadi peristiwa penembakan berada pada peringkat kedua dalam jumlah korban. Peristiwa penembakan yang paling mematikan di Amerika Serikat terjadi pada Desember 2012 di Sandy Hook Elementary School di Connecticut, seorang pria bersenjata menewaskan 26 orang korbannya, termasuk 20 anak-anak berusia 5 hingga 10 tahun.

Pelaku penembakan, Adam Lanza, melakukan bunuh diri setelah ia membunuh ibunya yang memiliki senjata api tersebut di rumahnya sebelum pergi ke sekolah.

Petugas berkumpul di luar Robb Elementary School setelah penembakan, Selasa, 24 Mei 2022, di Uvalde, Texas. (FOTO : AP Photo/Dario Lopez-Mills)

Peristiwa penembakan massal yang kerap terjadi di negeri Paman Sam tersebut memicu protes dari warga negara Amerika Serikat. Presiden Amerika Serikat Joe Biden selain menyampaikan kesedihan yang mendalam atas peristiwa penembakan tersebut dengan mengatakan, “Kehilangan seorang anak seperti separuh jiwa Anda direnggut,” katanya dengan penuh emosional.

Joe Biden juga menyerukan, ini waktunya warga AS, terutama legislator Negeri Paman Sam, benar-benar mendukung pengetatan aturan kepemilikan senjata api yang selama ini menjadi perdebatan sengit.

“Atas nama Tuhan, kapan kita akan mendukung reformasi hukum kepemilikan senjata. Ini waktunya mengubah rasa sakit dan kehilangan dalam aksi nyata bagi seluruh orang tua dan warga di negara ini. Kita harus memperjelas kepada para pejabat terpilih: Ini waktunya beraksi,” katanya.

Seorang senator Amerika Serikat Chris Murphy dari Connecticut mengatakan, “Anda tahu, senjata mengalir di negara ini seperti air. Dan itulah mengapa kami memiliki penembakan massal demi penembakan massal,” Senator dari Partai Demokrat menyampaikan memperbarui seruan untuk undang-undang keamanan senjata yang lebih kuat.

Sudah sejak lama hukum kepemilikan senjata di Amerika Serikat menjadi di isu dan pembahasan sengit di Kongres AS. Sebagian besar legislator, terutama kaum konservatif, masih banyak menganggap kepemilikan senjata merupakan bentuk kebebasan dalam demokrasi.

Pada waktu yang bersamaan di Amerika Serikat sedang mengalami ledakan pembelian senjata besar-besaran pasca dilonggarkan pembatasan senjata api. Tak heran jika kemudian pembelian meningkat drastis sampai tiga kali lipat.

Berdasarkan data yang dirilis oleh Biro Alkohol, Tembakau, Senjata Api, dan Bahan Peledak (ATF) sejak 2009, pistol semi otomatis tipe Glock, yang dibeli untuk perlindungan pribadi, mulai terjual lebih banyak dibandingkan senapan yang biasanya digunakan untuk berburu.

Di negara ini hak kepemilikan senjata api menjadi perdebatan hangat. Sejak Amandemen Kedua di bawah Bill of Rights disetujui oleh para pendiri negara. Perdebatan terjadi antara kelompok pembela hak senjata api yang percaya bahwa Amandemen Kedua melindungi hak individu dengan kelompok kontrol senjata api yang percaya terhadap perlindungan hak kolektif bahwa Amandemen Kedua tidak sesuai dengan perkembangan zaman sejak polisi dan militer telah menggantikan peran milisi sipil di era kontemporer.

Pandangan dari kelompok ini muncul setelah kerapnya terjadi berbagai kekerasan bersenjata api di tengah masyarakat sehingga menempatkan Amerika Serikat sebagai negara dengan tingkat pembunuhan bersenjata api tertinggi di dunia.

Isu kepemilikan senjata api kerap menjadi perdebatan di Amerika Serikat (AS) yang melibatkan kubu pro-gun control dan pro-gun rights. Seperti pasca terjadinya insiden Sandy Hook 2012 yang mendorong Presiden Barack Obama untuk menyusun kebijakan gun control yang lebih ketat. Penyusunan kebijakan berlanjut hingga RUU background checks Obama masuk ke Kongres. Namun RUU ini tidak berhasil direalisasikan karena kalah dalam voting Kongres.

Wakil Presiden Amerika Serikat Kamala Harris meletakan karangan bunga di tempat penembakan massa di Buffalo, New York. (FOTO : Instagram @vp)

Kini apa yang dilakukan masa Obama sepertinya akan diupayakan Presiden Joe Biden. Wakil Presiden Amerika Serikat Kamala Harris saat menghadiri upacara pemakaman korban penembakan massal di Buffalo, New York, mengatakan, pemerintah tidak akan duduk diam dan segera mencari solusi untuk menangani masalah kekerasan dengan senjata api yang semakin meresahkan di AS.

Menurutnya, pembunuhan yang tidak masuk akal dari senjata harus dihentikan dan Kongres harus mengambil tindakan dan memiliki keberanian untuk memastikan serangan-serangan ini tidak terjadi lagi.

Sepertinya upaya mewujudkan aturan pengetatan senjata akan mendapat penolakan selain dari pro-gun rights juga dari para anggota National Rifle Association (NRA). Seruan telah disampaikan mantan presiden AS Donald Trump yang menolak seruan untuk memperketat kontrol senjata di negara tersebut.

Selama ini NRA juga dianggap sebagai pihak yang terus berusaha menjegal inisiatif hukum terkait pengetatan kontrol senjata. NRA juga dipandang sebagai organisasi hak senjata paling kuat di Amerika Serikat. NRA salah satu kelompok pro-gun rights pressure group terkuat di Amerika Serikat. NRA juga menjalin kerjasama dengan perusahaan industri senjata api yang sekaligus berperan sebagai pemasok dana bagi NRA.

Sejarah dan Budaya Senjata Api

Sejarah dan budayaan kepemilikan dan penggunaan senjata api di Amerika Serikat tidak terlepas dari sejarah berdirinya negara tersebut. Dulu negara ini awalnya dikenal dengan sebutan The New World merupakan wilayah baru tanpa tatanan hukum dan pemerintahan. Penghuni pertamanya (first settlers) adalah penduduk dari benua Eropa mulai berimigrasi pada abad ke-17 untuk mencari lahan baru.

Ketika itu mereka harus berhadapan dengan wilderness, kebuasan daerah baru untuk ditaklukkan, ancaman dari suku Indian dan serangan binatang buas.

Kegiatan berburu untuk mencari makan pada masa agraris merupakan sebuah tradisi yang ikut membentuk karakter budaya senjata di Amerika Serikat. Tradisi ini berkembang secara turun temurun, senjata api menjadi alat untuk berburu sebagai cara utama mendapatkan makanan.

Sejak awal pendirian negara Amerika Serikat, senjata api telah memainkan peranan penting dalam membentuk karakter bangsa Amerika Serikat. Dulu dikenal adanya tradisi berburu, pembentukan milisi, gerakan Westward Expansion dengan semangat frontiership hingga terjadinya perang revolusi yang semuanya tidak terlepas dari senjata api.

Kemudian pada abad ke-18 rakyat sipil diberikan hak untuk membawa senjata api, alasannya karena pada masa itu pembentukan tentara khusus dianggap hanya akan menjadi ancaman bagi hak-hak warga sipil. Warga kemudian diberikan mandat untuk mengangkat senjata sebagai pasukan milisi untuk melindungi diri dan daerah komunalnya dari segala ancaman bahaya musuh. Milisi ini beranggotakan para pria dengan usia produktif dengan menyiapkan sendiri senjata api beserta pelurunya.

Senjata api kemudian menjadi epitom kekuatan bangsa ketika pada puncaknya rakyat Amerika mengangkat senjata melawan pemerintahan Inggris yang tiran melalui perang revolusi. Menurut Valdez dan Ferguson Jr – 1776, “the colonies declared independence and went to war with Great Britain. The American Revolution, which ended in 1783, would not have been possible without firearms” (2011).

Mengutip Sandra Dewi Dahlan dalam “Kontroversi Hak Kepemilikan Senjata Api di Amerika Serikat Sebuah Kajian Perubahan Sosial” (2015), sejarah panjang pembentukan negara Amerika Serikat yang sangat dekat dengan penggunaan senjata api inilah yang membentuk tradisi dan budaya senjata api di negara ini. Senjata api telah dianggap mewakili simbol-simbol masa lampau: mewakili liberty dengan keberhasilan membebaskan diri dari tirani, power mewakili kejayaan masa ekspansionisme, masculinity and manhood melalui tradisi berburu.

Menurut Stavrinakis Anna dalam “Policing the Patriarchal Color Line. Gun control, citizenship and sovereignty” (2016), Amerika Serikat adalah rumah bagi small arms and light weapons (SALW), sekitar lebih dari 875 juta senjata api diperkirakan diperjual belikan di seluruh dunia dan 650 juta nya atau 74 persen berada ditangan penduduk sipil, 270 juta dari senjata api ini berada di Amerika Serikat. Amerika Serikat memiliki tingkat kepemilikan senjata api tertinggi dengan rata-rata 88,88 senjata per 100 orang, diurutan kedua ada Yaman dengan rasio 54,8.18.

Amerika Serikat selain sebagai negara yang bebas dalam kepemilikan senjata api juga termasuk ke dalam negara-negara pengekspor senjata terbesar dunia khususnya senjata konvensional bersama Tiongkok dan Rusia. Menurut data SIPRI Fact Sheet March 2015, Amerika Serikat menyumbang 31 persen dari semua ekspor senjata di dunia pada tahun 2010-2014. Amerika Serikat dalam perdagangan senjata internasional sudah berlangsung sangat lama.

Berdasarkan data-data di atas menunjukkan bahwa di Amerika Serikat beredar banyak senjata api, bukan saja sebagai pemain terbesar yang melakukan transfer senjata di dunia internasional, AS juga didalam negeri

memberikan kebebasan kepada warganya untuk memiliki senjata api sesuai dengan amandemen kedua dan kebijakan luar negeri yang dianut Amerika Serikat.

Menurut Sandra Dewi Dahlan, jaminan kebebasan hak yang diberikan negara Amerika Serikat kepada warganya untuk memiliki dan menyimpan senjata api lewat pengesahan Amandemen Kedua, ternyata menjadi bumerang bagi stabilitas keamanan negara Amerika itu sendiri. Berbagai permasalahan akut kekerasan senjata terjadi sebagai akibat dari kebebasan berlebihan dan kemudahan akses senjata api di abad modern Amerika.

Namun yang disayangkan sebagian warga Amerika Serikat khususnya sebagian para politisi tetap bersikukuh mempertahankan budaya dan hak senjata api dengan apapun konsekuensinya. Sepertinya mereka masih enggan melepas budaya tradisi kekerasan dengan senjata api yang kerap terjadi. Seharusnya budaya kepemilikan senjata api di era milenial tidak lagi signifikan dalam kehidupan sosial masyarakat Amerika Serikat sebagai negara maju di dunia. (maspril aries)

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Wartawan Utama/ Penggiat Literasi/ Konten Kreator/ Tutor/ Penulis/ Penerbit Buku -- Palembang

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image