Dua Tahun “Gencatan Senjata” Perang Ketupat Kembali

Wisata  
Perang Ketupat di Pantai Pasir Kuning, Tempilang Kabupaten Bangka Barat. (FOTO : Dinas Kominfo Babel)

KAKI BUKIT, Tempilang – Dua tahun lamanya “gencatan terjadi” akibat pandemi Covid-19, dua tahun pula perang ketupat terhenti. Ahad (27/3) pasca “gencatan senjata” tersebut perang ketupat kembali diselenggarakan di Pantai Pasir Kuning, Kecamatan Tempilang, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel).

Perang ketupat adalah tradisi yang selalu ada menjelang Ramadhan pada bulan Syaban tepatnya setiap tanggal 15 Syaban pada setiap tahun. Namun Covid-19 menghentikan tradisi tersebut karena memang perang ketupat selalu mengundang daya tarik ribuan orang yang datang dari berbagai daerah di Pulau Bangka dan luar Pulau Bangka dan Pulau Belitung.

Perang ketupat pertama setelah dua tahun “gencatan senjata” diresmikan Wakil Gubernur Kepulauan Babel Abdul Fatah yang datang langsung ke Tempilang bersama Bupati Bangka Barat Sukirman.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Perang ketupat yang sudah berlangsung sejak lama dikenal sebagai tradisi yang berlangsung setiap tanggal 15 atau pekan ketiga bulan Syaban menjelang bulan Ramadhan tiba.

Pantai Pasir Kuning Tempilang yang pasirnya berwarna kuning, (FOTO : Maspril Aries)

Syahdan ceritanya, perang ketupat adalah tradisi yang tumbuh berkembang sejak lama pada masyarakat di Tempilang yang terletak sekitar 70 km dari Pangkalpinang (ibu kota Provinsi Babel), untuk meminta keselamatan agar kehidupan mereka selama satu tahun ke depan terhindar dari marabahaya yang akan menimpa masyarakat, tradisi itu adalah perang-perangan dengan menggunakan ketupat.

Perang ketupat adalah acara adat desa yang di dalamnya ada beberapa prosesi, seperti menghanyutkan perahu. Dari cerita yang ada di tengah masyarakat, asal mula tradisi ini, pada zaman dahulu di Tempilang banyak anak gadis yang diambil dan dimakan siluman buaya. Suasana desa sangat mencekam sehingga membuat masyarakat ketakutan. Untuk mengatasinya, beberapa orang pintar di desa itu berkumpul melaksanakan ritual secara bersama. Kemudian ritual itu dikenal sebagai tradisi perang ketupat.

Cerita lain dari tokoh adat setempat menceritakan bahwa tradisi perang ketupat adalah acara adat. Peserta yang ikut berperang saling melempar ketupat sebagai senjata dalam perang. Ini ketupat sungguhan yang dibungkus dengan janur kelapa. Masyarakat di Tempilang juga menyebut perang ketupat sebagai ruwahan menyambut tibanya bulan puasa atau Ramadhan.

Benteng Kota & Pantai Pasir Kuning

Perang ketupat ini juga ada sejarahnya, tepatnya cerita. Tradisi ini bermula pada tahun 1883 bertepatan dengan terjadinya letusan Gunung Krakatau di Selat Sunda. Tempat perang ketupat pertama kali terjadi di Benteng Kota yang dilakukan oleh kepala suku atau dukun kampung yang bernama Dimar (Akek Aren), seorang dukun dari Desa Pengamun yang mempunyai beberapa pengikut, seperti Akek Bey, Akek Lungkat, Akek Berubak, Akek Iri, dan Mak Miak.

Situs Benteng Kota Tempilang dulu diadakan Perang Ketupat. (FOTO : Safira Yasmin)

Benteng Kota yang kini menjadi situs cagar budaya dilindungi UU No.11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, disebut sebagai salah satu peninggalan bajak laut atau lanun.

Menurut sejarahnya, Kampung Tempilang yang dihuni oleh kaum pribumi kerap didatangi bajak laut atau lanun. Kedatangan bajak laut tersebut membuat banyak penduduk mengungsi dari kampung dan memilih tinggal di kebun. Mendapat kabar adanya bajak laut yang menyerang kampung membuat para laki-laki kembali ke kampung. Diantara mereka ada para jagoan silat yang akan melawan para bajak laut.

Diantara para pesilat itu ada Akek Bey, Akek Lungkat, Akek Berubak, Akek Iri, dan seorang pesilat perempuan yaitMak Miak. Mereka bertempur melawan para bajak laut sehingga para bajak laut hengkang dari kampung Tempilang.

Namun setelah kepergian para bajak laut, di kampung Tempilang terjadi peristiwa banyak anak perempuan yang hilang diambil oleh siluman buaya sehingga membuat warga ketakutan dan suasana kampung sangat mencekam. Kemudian para tokoh adat berkumpul melakukan ritual bersama agar terhindar dari musibah dan lahirlah tradisi yang bernama perang ketupat.

Seiring waktu kemudian medan perang ketupat ini berpindah pesisir Pantai Pasir Kuning yang memang pasirnya berbeda dengan pasir yang ada di pantai seluruh pulau Bangka. Pasir berwarna kuning, bukan putih atau hitam. Pantai ini berada di di Desa Air lintang.

Selain itu tradisi perang ketupat biasanya diiringi dengan acara ritual taber kampong perang ketupat. Tujuan dari taber kampong perang ketupat adalah untuk memperingati peristiwa penyerangan musuh dari bajak laut ke kampung Tempilang.

Taber kampong perang ketupat adalah upacara selamatan dalam rangka memperingati terjadinya sakrata atau tragedi yang dihadapi oleh nenek moyang warga di sana. Tradisi yang diadakan setiap tahun ini adalah untuk keselamatan warga desa dengan membuang sial dan lain sebagainya.

Tradisi perang ketupat dulu dilaksanakan sebagai persembahan untuk penguasa laut dan penguasa darat. Seiring dengan masuknya Islam ke Bangka, tradisi mengalami pergeseram, baik dari segi tujuan dan ritualnya. Kini memadukan unsur Islam dan budaya lokal. Unsur Islam seperti adanya tahlilan dan doa bersama di masjid dan unsur budaya nya yaitu ritual perang ketupat.

Perang ketupat yang berlangsung pada bulan Syaban adalah bagian dari kepercayaan umat Islam di Tempilang bulan Syaban adalah bulan mulai saat Allah SWT banyak menurunkan kebaikan-kebaikan berupa syafaat (pertolongan), maghfirah (ampunan) dan itqun min adzabin naar (pembebasan dari siksaan api neraka). Pada bulan itu umat muslim berlomba-lomba untuk beramal saleh untuk mendapatkan pahala yang besar dari Allah SWT.

Pelaksanaan upacara adat perang ketupat dipimpin oleh Ketua Adat setempat memiliki beberapa tahapan, yaitu Penimbong, Ngancak sebagai prosesi ritual pertama yang mengawali rangkaian acara dalam upacara adat perang ketupat, lalu Taber Laut, pemercikan air yang telah didoakan saat ritual Ngancak ke air laut, PerangKetupat dan terakhir Taber Kampong.

Perang ketupat untuk ritual sebanyak tujuh ketupat dan tujuh lepet. Dalam perang ini kelompok dari area darat berhadapan dengan kelompok dari area laut. Perang saling melempar ketupat dimulai setelah pembacaan narasi dengan bahasa lokal setempat.

Perang ketupat adalah kearifan budaya lokal perlu kita pertahankan. Dan merupakan tradisi atau upacara adat yang telah ada sejak lama dan dilakukan secara turun-temurun. Kini tradisi perang ketupat menjadi kebanggaan masyarakat Tempilang dan menjadi agenda wisata yang banyak didatangi wisatawan dari luar Tempilang. (maspril aries)

Berita Terkait

Image

Mereka Menulis: Sumsel Blackout

Image

Pesan Mantan Ketua DPRD Babel Kepada Penjabat Gubernur Babel “Amit-amit Jangan Sampai Pecah Telur”

Image

Kurma dan ini Keistimewaannya

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Wartawan Utama/ Penggiat Literasi/ Konten Kreator/ Tutor/ Penulis/ Penerbit Buku -- Palembang

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image