Memperingati Hari Batik dan Sejarahnya di Tengah Duka

Gaya Hidup  
Produk fesyen dari batik gambo. (FOTO : Diskominfo Muba)

KAKI BUKIT – Pada 2 Oktober 2022 kembali kita memperingati Hari Batik. Kali ini kita memperingatinya di tengah negeri tercinta dilanda duka cita. Ada ratusan nyawa anak bangsa terenggut di stadion Kanjuruhan, Malang usai pertandingan kompetisi Liga 1 Indonesia. Data resmi pertama dilansir di media massa ada 127 orang penonton atau Aremania meninggal dunia.

Kemudian Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Efendi menyatakan korban meninggal dunia akibat tragedi di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur sebanyak 130 orang.

Pada 2 Oktober kita memperingati Hari Batik dengan berbaju batik di bawah awan hitam yang menutup negeri ini dan air mata sanak keluarga yang kehilangan anggota keluarga tercinta.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Hari Batik yang diperingati setiap tanggal 2 Oktober bukan tanggal pertama kali batik diciptakan atau batik ditemukan. Hari batik bermula pada Akhir September dan awal Oktober tahun 2009 ketika badan dunia Unesco memberikan pengakuan internasional kepada batik Indonesia yang masuk dalam Daftar Representatif sebagai Budaya Tak Benda Warisan Manusia.

Pengakuan salah satu badan PBB tersebut secara resmi pada sidang Unesco di Abu Dhabi. Sebagai ungkapan rasa bahagia, Pemerintah Indonesia menetapkan setiap tanggal 2 Oktober ditetapkan sebagai Hari Batik. Itu sejarah Hari Batik di Indonesia.

Batik adalah seni. Seni batik sudah sejak lama dikenal di Cina, Jepang, India, dan Thailand. Bahkan ada yang menulis, menduga batik bermula dari negara Cina yang menyebar ke seluruh dunia. Ada banyak literasi tentang batik, berarti beragam literasi sejarah tentang batik.

Jika membaca buku atau hasil penelitian tentang batik maka para penulisnya menulis beragam versi tentang sejarah atau asal usul batik. Satu versi menyebutkan, sejarah batik atau keterampilan membatik orang Jawa diroleh dari belajar dari kaum pendatang yang menyebarkan kebudayaan di wilayah Pesisir Pantai Utara Pulau Jawa dan masuk ke pedalaman Pulau Jawa.

Versi yang lain mencatat bahwa batik berasal dari masa Kerajaan Majapahit (1293-1527). Batik yang pada awalnya bagian dari kekayaan tradisi budaya keraton, kemudian mengalami perkembangan dan menyebar ke segala kalangan masyarakat, hingga melahirkan inspirasi tentang macam-macam wahana dan ragam motifnya pada zaman sekarang. Bahkan kini, hampir seluruh provinsi mempunyai batik dengan berbagai nama dan sebutannya.

Ada versi lainnya menceritakan, tentang sebuah mitos, bahwa pada abad ke-7 seorang pangeran dari pantai timur Jenggala bernama Lembu Amiluhur memperisteri seorang puteri bangsawan dari Koromandel. Puteri itu lalu mengajari seni membatik, menenun, dan mewarnai kain kepada para dayangnya. Maka dari itu orang-orang Jawa memiliki kemampuan membatik.

Menurut Darmono dalam “Melestarikan Batik Banyumas Sebagai Warisan Budaya Nusantara” (2014), perkembangan batik di Indonesia mencapai kesempurnaan pada abad 14-15. Adapun pengaruh luar yang terdapat pada batik terjadi pada zaman Kerajaan Daha (1100-1222). Fungsi batik pada masa kerajaan Daha merupakan barang yang kepentingan kerajaan dan sebagai penunjang upacara keagamaan.

Perkembangan terjadi setelah Kerajaan Daha menjalin hubungan perdagangan dengan berbagai kerajaan lain seperti Kerajaan Sriwijaya, India, dan Tiongkok memberi pengaruh terhadap perkembangan penggunaan bahan yang digunakan batik saat itu, sepertinya mulai dikenalnya kain putih, mori dan kapas sebagai bahan sandang.

Selain secara etimologis, batik memiliki beberapa pengertian, antara lain adalah teknik pembuatannya, motif batik, bahan batik, fungsi batik serta jenis batik berdasarkan pengaruh budayanya. Secara umum pengertian batik yang didefinisikan adalah proses pembuatannya. Teknik pembuatan batik dimulai dengan pemilihan kain sebagai bahan dasarnya, selanjutnya dilakukan proses pembatikan hingga pewarnaan dengan menggunakan pewarna alam.

Batik adalah suatu karya tulis dengan lilin yang digambarkan pada sehelai kain. Lilin yang dimaksud di sini adalah campuran antara parafin, lilin lebah, gondorukem, mata kucing, dan lemak hewan dengan perbandingan tertentu. Lilin ini lazimnya disebut dengan “malam.”

Mungkin saja pendapat-pendapat itu benar. Namun menurut Inger Mc., Cone Elliot dalam bukunya “Batik Fabled Cloth of Java” mengemukakan bahwa istilah batik berasal dari kata “titik.” Menggunakan teknik rintang-warna menggunakan material-material alami seperti lilin, beras dan umbi-umbian yang dilumatkan, bahkan lumpur yang dibubuhkan pada selembar kain.

Berita Terkait

Image

Songket Palembang “Ratu Segala Kain”

Image

Malioboro Sekarang Citra Malioboro “Tempo Doeloe”

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Wartawan Utama/ Penggiat Literasi/ Konten Kreator/ Tutor/ Penulis/ Penerbit Buku -- Palembang

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image