Tragedi dari Heysel, Hillsborough, Port Said sampai Kanjuruhan

Olahraga  
Berita Utama Harian Republika, Senin 3 Oktober 2022. (FOTO : IG @republikaonline)

KAKI BUKIT – Tahun 2008, Ubaidillah Nugraha seorang bankir, penulis buku pasar modal dan kolumnis sepak bola pernah menulis buku berjudul “Republik Gila Bola.” Menurutnya, Republik Indonesia adalah Republik Gila Bola. Republik yang disebut zamrud khatulistiwa ini layak dikatakan surga sepak bola dengan beberapa alasan.

Pertama, siapa saja akan menemukan kesempatan untuk menikmati berbagai tayangan sepakbola di televisi yang tidak akan ditemukan di banyak negara lainnya. Bayangkan 103 jam perminggunya kita bisa menghabiskan waktu di depan televisi menonton pertandingan sepak bola. Semuanya gratis.

Kedua, ketika mendatangi berbagai kesempatan pertandingan sepak bola liga lokal maupun ketika tim nasional bermain. Antusiasme masyarakat Indonesia untuk hadir ke stadion, menonton ataupun sekedar bertemu suporter, benar-bernar membuat bulu roma berdiri. Kapasitas stadion yang hanya 30.000 misalnya, bisa dihadiri lebih dari 50.000 orang.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Apa yang terjadi Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur pada 1 Oktober 2022 sepertinya serupa dengan yang ditulis Ubaidillah Nugraha dalam bukunya setebal lebih dari 214 halaman?

Pada pertandingan kompetisi Liga 1 Indonesia 2022 yang mempertemukan tuan rumah Arema FC melawan tim tamu Persebaya, dengan kemenangan untuk tim berjuluk “Bajul Ijo.” Penonton dan pendukung Arema yang disebut Aremania kecewa dengan hasil tersebut, lalu terjadi tragedi yang mengakibatkan lebih dari 100 orang meninggal dunia.

Menurut Kepala Polda Jawa Timur (Kapolda Jatim) Irjen Nico Afinta, insiden ini bermula dari kekecewaan sekelompok suporter Arema. Usai wasit meniup peluit panjang suporter dari tribun mengungkapkan kekecewaan kepada pemain dan pelatih kemudian ada penonton yang masuk ke lapangan dan diikuti penonton lainnya. “Ada sekitar tiga ribu suporter yang masuk ke lapangan,” kata Kapolda Nico Afinta.

Polisi berusaha melakukan upaya preventif untuk mencegah aksi suporter semakin meluas. Namun yang terjadi situasi tak bisa lagi dikendalikan aparat keamanan yang berjaga lalu melepaskan tembakan gas air mata ke tribun.

Suporter Arema FC memasuki lapangan setelah tim yang didukungnya kalah dari Persebaya dalam pertandingan sepak bola BRI Liga 1 di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022). (FOTO : ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto)

Akibat insiden tersebut menurut Kapolda Jatim Irjen Nico Afinta pada Ahad (2/10) ada 127 orang korban meninggal, 125 orang suporter dan dua orang anggota Polri. Korban berjatuhan selain orang dewasa ada anak-anak, mereka panik setelah terkena tembakan gas air mata dan berusaha berlari keluar stadion dengan saling berdesak-desakan sehingga menimbulkan korban jiwa.

Kemudian Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Efendi yang meninjau langsung stadion Kanjuruhan dan para korban menyatakan bahwa korban meninggal dunia akibat tragedi tersebut sebanyak 130 orang.

Sementara itu menurut Menkopolhukam Mahfud MD, sejak sebelum pertandingan, pihak aparat sudah mengantisipasi terjadinya kericuhan melalui berbagai cara. Misalnya mengusulkan kepada panitia, pertandingan dilaksanakan sore, bukan malam hari, jumlah penonton agar disesuaikan dengan kapasitas stadion, yakni 38.000 orang.

“Tapi usul-usul itu tidak dilakukan oleh panitia yang tampak sangat bersemangat. Pertandingan tetap dilangsungkan malam, dan tiket yang dicetak jumlahnya 42.000,” kata Mahfud dalam keterangan pers di Jakarta.

Keterangan Menko Mahfud menjadi pembenar dari alasan kedua yang ditulis Ubaidillah Nugraha dalam buku “Republik Gila Bola.”

Tragedi Heysel

Lalu media massa khususnya media online serentak membuat pemeringkatan daftar sejarah tragedi dalam sepak bola yang terjadi di seluruh dunia, dari korban yang tewas terbanyak sampai yang sedikit. Peringkat pertama adalah tragedi yang terjadi di stadion Estadio Nacional, Lima, Peru pada 24 Mei 1964 dengan jumlah korban meninggal dunia 328 orang pada pertandingan antara tuan rumah Peru melawan Brazil.

Dan peringkat kedua adalah stadion Kanjuruhan, Malang dengan korban 130 orang meninggal dunia. Lalu disusul tragedi di Ghana yang menewaskan 126 orang. Dari berbagai tragedi sepak bola yang mengakibatkan para pendukungnya tewas, yang menyita perhatian dunia adalah tragedi yang terjadi di Benua Eropa mengingat penyelenggara kompetisi negara benua biru tersebut lebih maju dan moderen dibandingkan kompetisi dari belahan dunia lainnya.

Berita Terkait

Image

Terapkan Pidana Pelanggaran HAM pada Tragedi Kanjuruhan

Image

Suporter Sepak Bola dan Hooliganisme

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Wartawan Utama/ Penggiat Literasi/ Konten Kreator/ Tutor/ Penulis/ Penerbit Buku -- Palembang

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image